Senin, 15 Oktober 2012

Banjir

     Musim hujan telah datang, kami harus siap – siap menyambut banjir kiriman dari Bogor, maklum tempat aku tinggal selalu langganan dapat banjir kiriman dari kota teteangga. “Mo, perahu karet bantuan dari Bapak Walikota sudah datang ke kantor Rw? Sudah Pak, sahutku pada Pak Rt. Saya ingin kamu dan yang lain koordinasikan dengan baik sebelum banjir kiriman datang, selalu pantau debit pintu air Manggarai, beres Pak, kami akan siaga slalu setiap hari, sahut Anwar.” 
    Malam itu aku kembali bertemu dengan Ayu, gadis pujaan hatiku. Dia bekerja sebagai Guru di salah satu SMA Swasta di Jakarta Timur. “Malam, tumben baru pulang?” “Iya Mas tadi saya jenguk teman di rumah sakit sepulang ngajar, mari Mas saya permisi dulu.” “Silahkan.” “Mo, kapan kamu akan menyatakan perasaan mu kepadanya, nanti keburu ada yang lamar lho.” “Aku belum berani, memangnya kenapa War.” “Menurut gossip yang beredar sekarang , Ayu sudah resmi putus dengan Edo tiga bulan yang lalu, berarti sekarang ini dia sudah jomblo, soal nanti kamu ditolak atau diterima itu nomor dua, yang pertama kamu harus berani. “Kamu benar, aku harus barani bilang aku cinta kamu .” “Semangat Mo, aku dukung kamu Seribu Persen, ha ha…” “Bisa aja kamu War.” 
    Setibanya dirumah aku langsung ke kamarku, ku ambil secarik kertas dan aku mulai menulis surat untuknya, tentang perasaanku selama ini kutulis singkat saja karna aku tidak jago dalam hal mengarang jadi kuambil salah satu puisi karya Sarjono untuk mewakili perasaan cintaku padanya. “Aku ingin mencintai dengan sederhana, dengan isyarat yang tak sempat disampaikan awan kepada hujan yang menjadikannya tiada.” “Aku ingin mencintai dengan sederhana, dengan kata yang tak sempat ku ucapkan, kayu kepada api yang menjadikannya abu.” Kulipat suratku dan kumasukkan kedalam amplop. Besok surat ini akan ku sampaikan kepadanya atau kutitip pada Siti saja, bukankah dia mengajar di sekolah Siti. Esok paginya kubujuk Siti untuk mau menyampaikan suratku. “Ogah Kak, kenapa Kakak tidak kasih sendiri?” “Ayolah Ti, tolong Kakak mu ini, bukannya aku takut ditolak tapi kamu tahukan sejarah cintaku. Kakak mu ini bukan pria yang selalu beruntung dalam hal cinta.” Dengan wajah memelas kuterus bujuk Siti. “Ya udah kalau begitu, tapi hanya satu kali saja, Siti tidak mau kalau disuruh lagi.” “Trims adikku yang cantik, uang posnya mana?” “Uang pos apa, kalau tidak ada uang pos Siti tidak mau, berapa?” “Lima puluh ribu!” “Banyak amat, jadi tidak? Iya jadi.” “Siti yakin Bu Ayu akan terima cinta Kakak, karna dia tidak seperti gadis –gadis yang selama ini pernah Kakak pacari, Kakak bukan pria yang tidak beruntung tapi merekalah yang bodoh telah menghianati Kakak.” “Terima kasih Dik, atas dukunganmu .”
    Seminggu sudah aku menunggu, suratku belum jua dibalas olehnya. Hari ini hujan turun dengan lebatnya, aku harus bergegas di posko banjir karna menurut perkiraan banjir kiriman akan datang nanti malam. “Anwar, mana Bimo kenapa belum datang juga dengan perahu karet.” “Dia sedang evakuasi Pak Rw dan keluarganya sesuai dengan prosedur Pak, sahut Anwar.” “Bapak kan tahu gimana Pak Rw kalau musim banjir tiba, kasihan Bimo pasti dia kena sakit kepala lagi, sahut Pak Rt.” “Gila, Pak Rw bener- bener udah bikin kepala saya mau pecah, sabar Mo gitu – gitu dia ketua Rw kita, sahut Irwan.” “Yang bikin saya pusing, saya harus jagain kelima anaknya yang masih kecil – kecil, satu bayi dan ketiga istrinya sampai ke Posko, udah sampai di Posko salah satu istrinya yang hamil tua mau melahirkan dan saya didaulat untuk jadi asisten bidan untuk bantu persalinan , suasana Posko jadi kacau gara-gara Pak Rw pingsan saat melihat darah istrinya yang melahirkan.” “Sabar Mo, tugas kita malam ini masih panjang, kita harus bergegas evakuasi warga yang masih terperangkap dirumah karna air makin tinggi, utamakan ibu – ibu dan anak –anak ke Posko lebih dahulu, sahut Pak Rt.” “Baik Pak , sahut kami berlima.” 
    Sesampainya di Posko Siti datang menghampiriku. “Kak masih sibuk, tidak terlalu ada yang bisa Kakak bantu.” Sambil berbisik dia berkata “Bu Ayu ingin bicara dengan Kakak, itu pun kalau Kakak sudah tidak sibuk, dimana?” “Itu disana, ya udah sebentar lagi Kakak akan kesana.” “Yu, udah lama nunggu, belum lama.” “Ada yang bisa saya bantu.” “Aku sudah baca surat mu, puisinya bagus meskipun itu kamu kutip dari karya Sarjono, kok kamu tahu kalau itu bukan karya ku.” “Apa kamu lupa, aku ini Guru Bahasa Indonesia, jujur aku lupa dan aku tidak bisa mengarang jadi ku kutip saja.” “Aku sudah dengar dari Siti tentang kamu, aku harap kamu jangan marahi dia, aku tidak akan marahi dia karna kamu memang harus tahu tentang siapa aku .” “Aku memang sengaja tidak membalas suratmu, setelah Siti cerita tentang kamu seminggu ini aku diam – diam memperhatikan kamu dari jauh.” “Boleh aku tahu kesan mu terhadap aku.” “Setelah kuperhatikan kamu itu orangnya baik dan cukup unik dalam arti kata kamu selalu berusaha menolong orang yang membutuhkan bantua darimu tanpa pamrih, meskipun orang itu membuat pusing dengan segala permintaannya. Sampai – sampai kamu tidak memperhatikan dirimu sendiri, sebenarnya aku mengenal dirimu dari cerita Edo dalam hati aku berkata beruntunglah wanita yang bisa menjadi istrimu kelak.” “Lalu apa jawabanmu atas suratku.” “Kita jalani dengan perlahan tapi pasti, karena aku sendiri suka sama kamu Bimo.” Kulihat senyum manisnya yang selama ini telah berhasil membuat hatiku berbunga – bunga. Dengan mantap aku menjawab “Aku setuju jadi mulai hari ini kita pacaran dan aku ingin kita saling percaya .” “Aku janji tidak akan merusak kepercayaan mu terhadap diriku karna aku merasa sangat bersyukur bisa mendapatkan cintamu.” Hari ini hatiku merasa sangat senang, aku merasa telah memenangkan suatu peperangan besar dengan jatuh bangun aku mencari dewi cintaku tanpa mengenal rasa lelah. Ditengah banjir yang menggenangi wilayah tempat tinggal kami aku telah menemukan dewi cintaku yang selama ini selalu kurindu dan tak akan pernah kulepas . Aku ingin cintaku yang kurasakan saat ini tidak semu sehingga aku dapat merasakan kehangatannya dan merengkuhnya seumur hidupku. Kulihat Siti tersenyum padaku dan aku membalas senyumnya, aku bangga pada adikku dengan apa yang telah dia lakukan untuk membantu usahaku mendapatkan dewi cintaku. 
   By : Yulinda Kumara Ramandini

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar